Green Material untuk Green Building

 Green Material untuk Green Building

Oleh: Yodi Danusastro (Green Building Council Indonesia)

Anggapan bahwa Green Building adalah buah karya arsitektur yang menampilkan strategi desain pasif hemat energi sepertinya harus diklarifikasi kembali. Pertanyaan yang sering kali diutarakan dalam seminar Green Building terkait arsitektur biasanya seputar desain pasif dan Green Material. Sehingga membuahkan pertanyaan baru, apakah kaitannya antara desain pasif dengan Green Material?

Salah satu tujuan desain pasif adalah mengupayakan perencanaan arsitektural yang dapat meminimalisasi penggunaan energi, terutama lampu dan AC pada sebuah bangunan. Strategi-strategi yang sering diaplikasikan adalah dengan optimalisasi ventilasi alami, pencahayaan alami, pengaturan denah ruangan, perencanaan posisi jendela terhadap arah matahari. Dalam membangun sebuah Green Building, sang arsitek harus merencanakan strategi-strategi tersebut dengan baik. Namun, strategi desain pasif tersebut saja masih belum cukup dan perlu dipertimbangkan juga pemilihan materialnya yang juga Green.

Pada bangunan-bangunan adat, perencanaan desain pasif dan Green Material dimanfaatkan secara alamiah. Hal itu karena bangunan tersebut belum tersentuh teknologi modern dan pengambilan material diperoleh dari lokasi yang dekat dari bangunan. Bentuk yang umum ditemui misalnya penggunaan material kayu dan bambu untuk konstruksi bangunannya yang diambil dari hutan atau perkebunan setempat, menggunakan langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara.

Bangunan modern berkonsep Green

Berkembangnya teknologi, memacu perkembangan kehidupan masyarakat yang lebih modern. Aspek modern tersebut diantaranya adalah terciptanya produktivitas intelektual yang tinggi, valuasi nilai tanah, pada akhirnya membuat revolusi juga di sektor bangunan. Bangunan berubah dari kondisi tradisional, bertingkat rendah, tanpa AC, dan menggunakan material lokal, menjadi bangunan modern yang tinggi, menggunakan AC, dan pemilihan material berdasarkan kualitas yang dapat diambil dari seluruh dunia. Sayangnya, kondisi modern tersebut menjadi berlebihan, sehingga bangunan boros listrik dan menggunakan material yang dapat merusak tatanan alam. Pemikiran mengenai konsep Green Building pun timbul untuk membatasi kondisi yang berlebihan tersebut, tanpa mengurangi kualitas hidup dan produktivitas manusianya.

Perencanaan Green Building tidak dapat dipertimbangkan hanya dari satu sisi saja, misalnya dari sisi energi saja. Banyak teknik-teknik modern yang dapat dilakukan untuk mengurangi konsumsi listrik, terutama AC dan lampu. Penggunaan AC hemat energi dan lampu hemat energi hanyalah salah satu solusi melalui desain aktif. Tetapi, desain arsitektur dan pemilihan material penunjang penghematan listrik juga berperan besar. Misalnya, desain tata lampu harus sesuai dengan kemampuan ruangan menerima pencahayaan alami, penggunaan insulasi untuk mereduksi panas dari atap dan dinding, denah ruangan yang disesuaikan dengan penggunaan AC, hingga pemilihan kaca jendela yang dapat mencegah panas agar tidak menambah beban di AC. Sinergi antara desain pasif dan pemilihan Green Material kembali menjadi pertimbangan.

 

Green Material dalam Green Building

Mana yang benar, Green Material atau material ramah lingkungan? Keduanya sepertinya mirip. Tetapi, Green Material memiliki arti yang lebih luas dari sekedar ramah lingkungan. Pengertian material ramah lingkungan sendiri pada umumnya menyangkut dari sisi produk material itu sendiri. Bahwa, material ramah lingkungan adalah material yang pada saat digunakan dan dibuang, tidak memiliki potensi merusak lingkungan dan mengganggu kesehatan. Sedangkan, Green Material memiliki pengertian lebih besar selain hanya dari sisi produk materialnya saja yang ramah lingkungan. Tetapi, juga meninjau sumber materialnya apakah berkelanjutan? Apakah proses produksinya di pabrik juga ramah lingkungan? Apakah proses distribusinya jauh sehingga membuang banyak karbon? Apakah proses pemasangannya tidak membuang banyak sisa sampah? Apakah dapat mendukung penghematan energi ? Sehingga dalam perencanaan Green Building, material-material  Green dapat secara dinamis memberikan dampak terhadap penghematan listrik, penghematan air, meningkatkan kesehatan dan kenyamanan, dan efisiensi manajemen perawatan bangunannya.

 

Produk-produk Green Material juga tidak dapat saling berdiri sendiri, memerlukan kombinasi dari pemilihan material Green yang sebaiknya telah dikonsultasikan kepada ahli Green Building. Misalnya dalam membangun sebuah dinding. Dinding tersebut dapat dikatakan Green apabila menggunakan bahan dinding utama (misalnya batako, kayu, gipsum) yang Green, menggunakan insulasi panas yang Green, menggunakan cat/coating yang Green, hingga menggunakan panel akustik dan hiasan dinding yang Green. Apabila hal tersebut diterapkan di seluruh bangunan, ditambah analisis penggunaan listrik, analisis desain pasif, hingga survey kenyamanan penghuninya, bangunan tersebut dapat menjadi sebuah Green Building. 

Berita Terkait