Gedung Hijau di Indonesia

Gedung Hijau di Indonesia

Istilah Bangunan Hijau atau dikenal juga dengan konstruksi hijau dan bangunan berkelanjutan yang mengarah pada struktur dan proses pemakaian yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut. Mulai dari desain, pemilihan lokasi, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi dan peruntukan. Praktik ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik dalam hal ekonomi, utilitas, durabilitas dan kenyamanan.

Bangunan hijau dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan bangunan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan alami dengan menggunakan energi, air, dan sumber daya lain secara efisien, melindungi kesehatan penghuni dan meningkatkan produktifitas karyawan, serta mengurangi limbah, polusi, dan degradasi lingkungan.

Satu demi satu langkah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara ramah lingkungan mulai terjejak. Salah satunya dengan menghadirkan gedung ramah lingkungan di kota-kota besar. Data pada April 2013 dari Kementerian Pekerjaan Umum memaparkan bahwa dari 500 kabupaten atau kota di Indonesia baru ada 116 kota yang sudah memiliki peraturan bangunan hijau. Walaupun begitu, langkah ini tak menyurutkan semangat para pihak yang serius menyadari akan pentingnya bangunan hijau. Contohnya beberapa gedung berikut ini.

Allianz Tower

Gedung yang dibangun PT Medialand ini terletak di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Allianz Tower yang berlantai 28 dan dibangun di atas lahan seluas 7.000 meter persegi ini berpegang teguh pada pandangan-pandangan desain mengenai environmental sustainable design (ESD). Gedung ini didesain langsing dan pipih di bagian timur dan barat sehingga mengurangi terik cahaya dan panas matahari yang langsung menimpa bagian-bagian ini.   Allianz Tower hanya sedikit membangun basement sehingga 70 persen dari seluruh luas tanah digunakan sebagai kawasan resapan air hujan. Hal ini sangat penting sebagai usaha penanggulangan banjir di Jakarta. Cara ini dibarengi dengan penerapan daur ulang air hujan dan air kotor sehingga mengurangi jumlah air yang dibuang melalui saluran kota ke sungai-sungai. Tanah di gedung ini akan dimaksimalkan sebagai resapan alami.

Gedung Grha Wiksa Praniti

Berlokasi di Jalan Turangga, Bandung. Pada 9 April 2013, Gedung ini diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Selain berfungsi sebagai ruang konvensi, ruang pamer, dan ruang rapat, gedung ini dijadikan salah satu contoh gedung dan kawasan ramah lingkungan.
 Gedung Grha Wiksa Praniti menggunakan sistem tata air zero runoff.  Kawasan ini memiliki sub-reservoir dengan daya tampung 325 meter kubik. Secara khusus, gedung tersebut dirancang dengan konsep go green building yang menerapkan teknologi hasil litbang. Terdapat bukaan untuk memanfaatkan cahaya matahari dan penghawaan alami. Penataan sirkulasi udara membuat gedung ini tetap sejuk dengan udara alami. Tanpa lampu di siang hari dan pendingin udara, isi gedung ini tetap terang dan terasa dingin.

Jakarta Box Tower

Gedung ini digunakan sebagai gedung perkantoran yang terletak di Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat dan akan disertifikasi “green building” dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Dengan begitu, gedung ini akan dilengkapi tempat penampungan air hujan yang akan diolah dan digunakan sebagai air bersih. Beberapa lapis area parkir akan ditutup menggunakan bahan alumunium panel yang berlubang-lubang untuk kebutuhan ventilasi udara. Lubang perforasi tersebut akan menampilkan pola gambar abstrak dari ondel-ondel dan Abang None Jakarta sebagai ciri khas tradisi Betawi.
Jakarta Box Tower merupakan gedung peruntukan sewa dibangun di atas lahan seluas 5.816 meter persegi. Bangunan ini terdiri dari atas 32 lantai dengan total luas bangunan sekitar 64.000 meter persegi. Pembangunan Jakarta Box Tower rencananya akan selesai pada kuartal ke-3 tahun 2015.

Berita Terkait