PRODUK HIJAU DIMULAI DARI INDUSTRI HIJAU

Produk hijau atau produk ramah lingkungan telah menjadi kebutuhan saat ini untuk digunakan pada berbagai sektor. Sebagai contoh adalah pada sektor bangunan, beberapa produk hijau antara lain :
 
produk dengan label ramah lingkungan, produk hemat energi, produk hemat air, produk yang mengandung material daur ulang, produk lokal, produk dari sumber terbarukan, maupun produk yang mengutamakan fungsi dan performance bangunan misalnya yang dapat mengurangi noise, yang dapat memantulkan atau meneruskan cahaya alami, yang tidak mengandung racun atau zat berbahaya bagi manusia, dan juga produk-produk lain yang dapat membantu pencapaian suatu bangunan mendapatkan pengakuan atau sertifikasi bangunan hijau. Semua kriteria atau tolok ukur pencapaian nilai ‘green’ pada suatu bangunan dapat dilihat pada Rating Tool GREENSHIP yang diterbitkan oleh Green Building Council Indonesia. Untuk dapat memenuhi tolok ukur tersebut, pasti dibutuhkan produk-produk yang sesuai. Untuk itulah produk hijau menjadi sangat penting dalam pembangunan suatu proyek gedung atau bangunan. Kriteria untuk produk hijau banyak dan bervariasi, kita dapat melihat dari berbagai sumber yang ada di internet. Kriteria dapat bermula dari asal bahan baku dan juga pengambilannya, proses produksi, pengolahan limbah, distribusi, sampai ke disain dan spesifikasi produk itu sendiri yang kemudian juga harus diperhatikan kinerjanya, serta pemeliharaan dan perlakuan setelah berakhir masa fungsinya. Manfaat lain yang diharapkan adalah semakin kecil jejak karbon dan jejak airnya.
 
Peran sangat besar untuk terciptanya suatu produk hijau atau ramah lingkungan adalah bagaimana industri pembuat produk tersebut dapat menerapkan prinsip-prinsip ‘green’. Kita namakan prinsip tersebut adalah Prinsip Industri Hijau. Industri Hijau adalah Industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan

efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan Industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebagai salah satu referensi untuk menerapkan Prinsip Industri Hijau di Indonesia, bisa dilihat  pada Pedoman Penghargaan Industri Hijau yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian di link berikut :
 
http://www.kemenperin.go.id/artikel/17444/ Pengumuman-Penghargaan-Industri-Hijau-2017
 
Penghargaan Industri Hijau merupakan program tahunan Kementerian Perindustrian yang bertujuan untuk memberikan motivasi kepada Perusahaan Industri menerapkan Prinsip Industri Hijau; mensosialisasikan program Industri Hijau, dan menyiapkan Perusahaan Industri dalam pemenuhan Standar Industri Hijau (SIH). Program Penghargaan Industri Hijau diberikan kepada Perusahaan Industri Nasional yang terbagi dalam 3 kategori, yaitu Industri Besar, Industri Menengah, dan Industri Kecil. Pada dasarnya terdapat 3 bagian besar yang harus diterapkan sesuai Prinsip Industri Hijau, yaitu Proses Produksi, Pengelolaan Limbah dan Emisi, dan Manajemen Perusahaan. Bagian terbesar atau 70% adalah pada Proses Produksi. 
 
Ketiga bagian besar tersebut adalah sama pentingnya dan harus terpenuhi. Untuk pengelolaan limbah dan emisi dapat mengacu pada peraturan yang ada, demikian juga untuk manajemen perusahaan dapat menerapkan sesuaistandar nasional maupun internasional. Sedangkan pada proses produksi, banyak hal yang bisa dioptimalisasikan untuk mendapatkan proses produksi yang efektif dan efisien sehingga pada akhirnya menciptakan produk yang berkualitas dengan emisi sekecil-kecilnya. Dengan menerapkan Prinsip Industri Hijau, perusahaan didorong untuk terus menerus melakukan inovasi guna mendapatkan efisiensi yang lebih baik dan kualitas produk yang semakin baik serta dampak terhadap lingkungan yang semakin kecil. Selain itu, hasil dari penerapan Industri Hijau dapat dijadikan pembelajaran ke masyarakat luas atau pengguna produk untuk memilih produk yang hijau.
 
Produsen diharapkan tidak hanya mencantumkan label ‘green’ tetapi juga memberikan edukasi mengenai konsumsi energi per satuan produk dan konsumsi air per satuan produk, atau jejak karbon dan jejak air. Sebagai contoh pada industri ubin keramik. Produsen dapat menyatakan berapa kWh/m2 atau kWh/ton, misalnya Ubin X diproduksi dengan konsumsi energi listrik 2 kWh/m2 dan energi panas 2 Nm3/m2, dan konsumsi air 0.01 m3/m2, serta menghasilkan emisi CO2 0.4 tCO2/m2. Dapat pula diberikan informasi lain terkait kemasan yang ‘green’, daur ulang dan lain-lain. Dengan demikian pembeli dapat membandingkan tingkat ke’hijau’an antar produk atau ‘brand’ serta semakin peduli untuk menggunakan material bangunan dengan bijak karena setiap produk pasti mempunyai jejak ekologi yang berkontribusi pada pengurangan ketersediaan sumber daya alam dan peningkatan emisi GRK.
 
‘Impact’ dari proses produksi suatu produk dapat terukur dengan baik dan dapat ditekan seminimal mungkin dengan penerapan Prinsip Industri Hijau. Hal tersebut tidak cukup hanya dalam bentuk implementasi, evaluasi dan pelaporan, tetapi harus juga disampaikan sebagai edukasi ke masyarakat mengenai pentingnya pemilihan produk atau material bangunan yang ‘green’. 
 
Dengan ‘impact’ yang terukur dan transparant, masyarakat semakin peduli dan pada akhirnya industri juga semakin terdorong untuk menerapkan prinsip-prinsip industri hijau secara konsisten demi lingkungan yang semakin bersih dan sehat serta ketersediaan sumber daya alam untuk generasi sekarang dan mendatang. Selain aspek-aspek di atas, produk hijau juga harus memperhatikan desain dan material yang dipakai supaya tidak mengandung racun atau zat yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan, dan yang juga terpenting adalah memperhatikan green life cycle, baik produknya sendiri maupun kemasannya (produk modular-ringan dan ringkas, produk yang bisa didaur ulang, kemasan yang ramah lingkungan, dll). 
 
Dengan demikian seluruh aspek produk hijau yang diharapkan dapat tercapai dan manusia yang sehat serta lingkungan hidup yang terjaga dan berkelanjutan dapat terwujud.
 
*Penulis adalah Rating Development GBC Indonesia dan Anggota Tim Verifikasi Teknis Penghargaan Industri Hijau Kementerian Perindustrian RI Tahun 2015, 2016 dan 2017. 
 
Penulis : Surendro 
 
 
Salam hijau lestari! 

Berita Terkait