PENERAPAN MATERIAL RAMAH LINGKUNGAN UNTUK RUMAH SAKIT

Tuntutan kebutuhan pelayanan dari pelanggan
rumah sakit telah bergeser ke arah pelayanan
paripurna dengan berbasis kenyamanan dan
keamanan lingkungan rumah sakit. Oleh karena
itu, rumah sakit hendaknya mampu memberi
perlindungan dan kenyamanan bagi pasien dan
pengunjung lainnya untuk memenuhi unsur
kenyamanan ekologis sebagai pertimbangan pasien
dalam pemilihan rumah sakit.
Kebijakan Green Hospital merupakan jawaban
pergeseran tuntutan kebutuhan mutu pelayanan
RS bagi masyarakat. Sayangnya, kebijakan itu
belum banyak diterapkan di Indonesia. Investor
rumah sakit di perkotaan khususnya pada umumnya
memiliki keterbatasan lahan fisik, sehingga
rumah sakit dibangun dengan kecenderungan
mengabaikan unsur lingkungan hijau dengan hanya
mengkonsentrasikan pemanfaatan penggunaan
lahan untuk bangunan secara maksimal.
 
Hadirnya kebijakan Green Hospital bagi bangunan
rumah sakit akan menjadi ciri khas sekaligus
model pembangunan berkelanjutan untuk industri
rumah sakit bahwa mengelola Rumah Sakit tidak
terjebak pada orientasi bisnis semata. Kebijakan
itu diharapkan akan memberi kontribusi bagi
peningkatan kualitas udara di dalam rumah sakit
khususnya dan di wilayah kota tempat rumah sakit
itu berada pada umumnya.
 
Implementasi kebijakan green hospital harus
Appreciative Inquiry (AI) yang seyogyanya diikuti
seluruh manajemen direksi, pejabat struktural, dan
pejabat fungsional di lingkungan rumah sakit. Ada
beberapa langkah pendekatan antara lain dengan
mencari kondisi unik dan keunggulan yang dimiliki
(kondisi ini akan berbeda di tiap-tiap rumah sakit),
 
Ada beberapa langkah pendekatan antara lain
dengan mencari kondisi unik dan keunggulan yang
dimiliki (kondisi ini akan berbeda di tiap-tiap rumah
sakit), dan juga ditantang untuk menemukan bentuk
tindakan masa depan bernilai yang berdasarkan
sejarah dan mengedepankan visi melindungi
lingkungan, menciptakan strategi dan merancang
arsitektur sosial, dan tahap di mana semua proses
pembelajaran, improvisasi serta adaptasi terjadi.
Fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya
berbagai inovasi produk industri terus berkembang
dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan.
 
Konsep pembangunan arsitektur hijau menekankan
peningkatan efisiensi dalam penggunaan air,
energi, dan material bangunan, mulai dari desain,
pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu
ke depan.
 
Konstruksi yang berkelanjutan dilakukan dengan
penggunaan bahan-bahan alternatif dan bahan
bakar alternatif yang dapat mengurangi emisi CO2
sehingga lebih rendah daripada kadar normal bahan
baku yang diproduksi sebelumnya. Bahan baku
alternatif yang digunakan pun beragam. Bahan
bangunan juga memengaruhi konsumsi energi di
setiap bangunan.
 
Salah satu yang akan dibahas dalam artikel ini
adalah bangunan rumah sakit wajib memfokuskan
diri pada pemilihan bahan material bangunan dalam
kegiatan mendesain rencana rumah sakit ataupun
kegiatan konstruksi lainnya, seperti renovasi,
pengembangan, perbaikan dan penataan kembali.
Konsekuensi terbesarnya adalah limbah yang akan
dihasilkan dari kegiatan pengadaan dan pemakaian
bahan bangunan tersebut. 
 
Padahal limbah konstruksi bersama dengan
limbah lainnya (termasuk konsentrasi utama yaitu
limbah medis) merupakan parameter utama dalam
menentukan pelaksanaan rumah sakit dengan citra
ramah lingkungan.
 
Rumah sakit yang ramah lingkungan juga
dapat diukur dari performa bangunan rumah
sakit tersebut terhadap pengguna yang akan
menggunakan bangunan tersebut. Pemilihan
material dan pewarnaan menjadi sangat penting
untuk menciptakan ruang yang convivial.
 
Untuk mencapai bangunan yang memiliki performan
tinggi, sebuah rumah sakit sebaiknya menggunakan
material bangunan yang tahan lama dan mudah
dibersihkan. Ada baiknya material yang digunakan
adalah material yang diproduksi lokal, sehingga emisi
gas buangan yang dihasilkan dari proses produksi
hingga transportasi pendistribusian material
sangat rendah dibandingkan penggunaan material
import. Banyak material lokal yang telah tersedia di
Indonesia yang bisa kita terapkan pada bangunan
rumah sakit baik sebagai struktur ataupun bagian
dari dekorasi ruangan sehingga asri dan sepadan
antara ruang luar dengan ruang dalam.
 
Untuk dapat menggunakan bahan material yang
ramah lingkungan, sebuah bangunan termasuk
rumah sakit harus sedini mungkin direncanakan
secara komprehensif, dimulai dengan menentukan
modul & ukuran bangunan menggunakan standar
bangunan spesifik yang sesuai (rumah sakit) dan
massa bangunan dengan sistem modular sehingga
cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan
tuntutan aktivitas yang diwadahi, yang semakin hari
akan semakin berkembang (sesuai dengan fungsi
pelayanan yang mulai beragam).
 
Sistem dasar bangunan yang digunakan juga
sangat dipertimbangkan sejak awal tergantung
dari karakter dan kemampuan daya dukung
tanah pada lahan perencanaan bangunan rumah
sakit. Semua sistem struktur bangunan dalam
proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat
berbahaya bagi lingkungan, didapatkan dengan
mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos
atau proses memindahkan yang besar, karena
menghemat energi BBM untuk memindahkan
material tersebut ke lokasi pembangunan). Serta
yang limbahnya dapat terurai dengan mudah secara
alami. Material tersebut dapat menghubungkan kita
dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan
alam karena kesan alami dari material tersebut
(misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu
pada pepohonan). 
 
Penutup atap perlu diperhitungkan adalah
penanggulangan masalah kebocoran dengan
memeriksa kualitas bahan atap, memperhitungkan
kemiringan atap, memeriksa akurasi bentuk satuan
bahan atap, memberikan lapisan pelindung untuk
reduksi panas pada bagian dalam atap.
Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan
baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan
sebuah bangunan tak terkecuali bangunan rumah
sakit.
 
Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini
telah banyak digunakan material baja ringan. Baja
ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan
kualitas tergantung dari bahan bakunya.
Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki
keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos,
antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan
sehingga tidak membebani konstruksi dan pondasi,
serta dapat dipasang dengan perhitungan desain
arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.
 
Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai
menggunakan bahan aluminium sebagai generasi
bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki
keunggulan dapat digunakan ulang, bebas racun
dan bebas zat pemicu kanker, bebas perawatan dan
praktis, dengan desain insulasi khusus mengurangi
transmisi panas dan bising , lebih kuat, tahan lama,
antikarat, tersedia beragam warna, bentuk, dan
ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
 
Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas
matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi
batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen,
dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api,
kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah,
kedap suara, dan menyerap panas matahari secara
signifikan.
 
Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan
sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan,
warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul
sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu
sekitar.
 
Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu
meredam dan menyerap sinar dan panas matahari.
Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan
panas dan meluncurkannya kembali jika suhu
udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana
jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami
seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar 
 
Begitu juga dengan Interior ruang dalam, diupayakan
tetap mengutamakan segi kesehatan, tidak beracun,
sebelum maupun sesudah digunakan, menggunakan
bahan finishing dinding dan sistem kontruksi yang
mudah dibersihkan, tidak menyimpan debu atau
kotoran dan warna yang dipilih adalah warna hangat
untuk menunjang suasana penyembuhan.
Bahan penutup lantai, harus terbuat dari bahan
yang kuat, mudah dibersihkan, kedap air, berwarna
terang, dan pertemuan antara lantai dengan dinding
harus berbentuk konus. Perlu dihindari bahanbahan
yang licin untuk menghindari selip dan tidak
menyimpan debu atau kotoran.
 
Bahan-bahan yang dapat dikatakan anti selip
adalah bahan-bahan yang mempunyai koefisien
pergeseran dalam keadaan basah maupun kering,
memiliki ketahanan terhadap goresan terlebih untuk
penggunaan di ruang ruang publik, dengan sistem
pemasangan tanpa sambungan terbuka pada lantai
sehingga tidak mudah menyimpan debu pada ujung
ujungnya untuk penyelesaian pada sudut sudut
ruang dan perbedaan pada ketinggian.
 
Bahan yang memenuhi kriteria ini adalah bahan
karet/vinyl dan modifikasi turunannya seperti salah
satu contohnya yang saat ini banyak digunakan
adalah Linoleum, Linoleum terbuat dari minyak
biji flax (inseed oil) yang dicampur dengan tepung
kayu atau serbuk gabus yang kemudian direkatkan
pada media berbahan dasar dari kain berserat atau
kanvas. Terdapat setidaknya enam bahan utama
didalamnya (inseed oil, rasin, woodfloor, limestone,
pigment dan jute), yang kesemuanya tergolong
produk yang ramah lingkungan, baik untuk topshield
dan backing nya. Sifatnya juga fleksibel sehingga
bisa digunakan untuk menutupi area yang tidak bisa
dijangkau oleh keramik. Harganya juga relatif lebih
murah daripada keramik dan kayu.
 
Linoleum memang mirip dengan bahan vinil, namun
memiliki kelebihan seperti : terbuat dari bahan baku
alami sehingga aman untuk semua orang, tahan lama
dan tidak mudah rusak, Kuat menahan beban berat
dari furnitur, bahkan untuk furnitur yang memiliki
kaki roda, tahan api dan sulit terbakar, higienis dan
anti bakteri, hemat biaya serta memiliki desain yang
dekoratif dan dapat dipadu-padankan dengan jenis
material ramah lingkungan lainnya.
 
Tentunya masih banyak jenis bahan material
bangunan yang ramah dan sehat untuk digunakan
di bangunan Rumah Sakit. 
 
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah, penggunaan
material bahan bangunan yang tepat berperan
besar dalam menghasilkan bangunan berkualitas
yang ramah lingkungan. Lebih jauh beberapa jenis
bahan bangunan ada yang memiliki tingkat kualitas
yang memengaruhi harga.
 
Penetapan anggaran biaya sebaiknya sesuai
dengan anggaran biaya yang tersedia dan dilakukan
sejak awal perencanaan sebelum konstruksi untuk
mengatur pengeluaran sehingga bangunan tetap
berkualitas. Lakukanlah survei terlebih dahulu untuk
mencari alternatif bahan bangunan yang bersifat
praktis, mampu memberi solusi tepat kebutuhan
bangunan, dan ramah lingkungan. Hal ini bisa dilihat
mulai dari lama waktu proses pengerjaan, tingkat
kepraktisan, dan hasil yang diperoleh.
 
Kini beberapa produsen di tanah air telah membuat
produk dengan inovasi baru yang meminimalkan
terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi
pemakaian sumber daya alam tak terbarukan dengan
optimalisasi bahan baku alternatif, dan menghemat
penggunaan energi secara keseluruhan. Bahan baku
yang ramah lingkungan berperan penting dalam
menjaga kelestarian lingkungan bumi.
 
Beragam inovasi teknologi proses produksi
terus dikembangkan agar industri bahan baku
tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri
bahan bangunan sangat berperan penting untuk
menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas
sekaligus ramah lingkungan. 

Berita Terkait